Sabtu, 23 November 2013

Metode Sosologi

1.     Metode Kualitatif

Metode ini merupakan metode yang mengutamakan bahan yang sukar, dapat di ukur dengan angka – angka atau dengan ukuran – ukuran lain yang bersifat eksak, walaupun bahan – bahan tersebut terdapat dengan nyata dalam masyarakat.

A.    Metode Historis
Menggunakan analisis atas peristiwa – peristiwa dalam masa silam untuk merumuskan prinsip – prinsip umum. Seorang sosiologi yang ingin menyelidiki akibat – akibat revolusi (secara umum) akan mempergunakan bahan – bahan sejarah untuk meneliti revolusi – revolusi penting yang terjadi dalam masa yang silam.
B.     Metode Komperatif
Mementingkan perbandingan antara bermacam – macam masyarakat beserta bidang – bidangnya, untuk memperoleh perbedaan – perbedaan dan persamaan – persamaan serta sebab – sebabnya.
C.     Metode Studi Khusus (Case Study)
Bertujuan untuk mempelajari sedalam – dalamnya salah – satu gejala nyata dalam kehidupan masyarakat. Alat yang digunakan untuk metode studi khusus adalah :
·         Wawancara ( Interview )
Teknik ini sering di pakai apabila di perlukan data penting dari masyarakat lain. Teknik wawancara dapat di laksanakan secara tersusun ataupun tidak.
·         Pertanyaan – Pertanyaan ( Questionnaires )
Dalam teknik ini, penyidik sudah membuatkan pertanyaan – pertanyaan yang nantinya akan di ajukan.
·         Daftar Pertanyaan – Pertanyaan ( Schedules )
Teknik ini pun hampir sama dengan questionnaires, dimana sudah dibuatkan daftar pertanyaan – pertanyaan yang telah di susun.
·         Participant Observer technique
Sedangkan teknik ini merupakan teknik yang penyidiknya harus mengikuti rutinitas sehari – hari dari kelompok sosial yang sedang di selidikinya.

2.     Metode Kuantitatif

Mengutamankan bahan – bahan keterangan dengan angka – angka, sehingga gejala – gejala yang di teliti dapat di ukur dengan mempergunakan skala – skala, indeks, table dan formula – formula yang semuanya itu sedikit banyaknya mempergunakan ilmu pasti atau matematika.Sociometry Mempergunakan skala – skala dan angka – angka untuk mempelajari hubungan – hubungan antar manusia dalam masyarakat. Teknik ini termasuk teknik yang meneliti masyarakat secara kuantitatif.

3.     Metode Induktif

Merupakan metode yang mempelajari suatu gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah – kaidah yang berlaku dalam lapangan yang luas.

4.     Metode Deduktif

Merupakan metode yang mempergunakan proses sebaliknya yaitu mulai dengan kaidah – kaidah yang di anggap berlaku umum untuk kemudian di pelajari dalam keadaan yang khusus.

5.     Metode Empiris

Adalah metode yang menyandarkan diri pada keadaan – keadaan yang dengan nyata di dapat dalam masyarakat
·         Research ( Penelitian )
Ø  Basic research adalah penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih banyak dari ilmu pengetahuan.
Ø  Applied research adalah penelitian yang di tunjukan pada penggunaan ilmu pengetahuan secara praktis.

6.     Metode Rationalistis

Teknik ini mengutamakan pemikiran dengan logika dan pikiran sehat untuk mencapai pengertian tentang masalah – masalah kemasyarakatan.


Kamis, 21 November 2013

Tutorial Hijab Simple Untuk Kamu Yang Pergi Ke Kampus








Contoh Cover Majalah




Marxisme Dan Teori Kritis

MARXISME
          Setelah kematian Marx, teori Marxian mula – mula di dominasi oleh orang yang melihat adanya determinisme ekonomi dan ilmiah di dalam teorinya. Wallerstein menyebutkan era ini sebagai era “Marxisme Ortodoks” (1986:1301). Pada dasarnya Marxisme ortodoks ini adalah teori ilmiah Marx yang telah membuka kedok hukum ekonomi yang menguasai dunia kapitalis. Hukum ekonomi itu menunjukkan keruntuhan system kapitalis yang terelakkan. Pemikiran Marxian awal seperti Kark Kautsky berupa mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai berperannya hukum ekonomi itu.
            Pada tingkat teori, Marxisme deterministis ini mengesampingkan hubungan dialektika antara individu dan struktur sosial yang luas. Metode yang di gunakan Marxisme untuk mendekati dan memahami gejala alam di sebut dialektika. Dialetika berasal dari kata dialogo (dialog), yang berarti bercakap atau berdebat. Dialektika Mark di ambil dari Hagel, hanya saja Hagel menggunakan metode dialektika itu dengan berlandaskan filsafatnya yang idealistis, Mark menjungkir balikan dengan berlandaskan filsafat materialisme.
            Menurut Marx, perkembangan masyarakat dan sejarah manusiapun tunduk atau memuja watak yang materialistis-dialektis. Nah, apabila materialisme-dialektika di terapkan pada gejala masyarakat, maka timbul lah materialisme-historis.
            Jadi dalam garis besarnya Marxisme terdiri dari dua bagian besar yakni materialisme-dialektika yang menerangkan hukum umum tentang hal ihwal dan perkembangan alam semesta ini dan historis-materialisme yakni penerapan hukum umum itu pada gejala masyarakat. Karena historis-materialisme berlandaskan kepada materialisme-dialektika maka azas materialisme dialektika yang telah di uraikan di atas berlaku juga sepenuhnya dalam historis-materialisme.
TEORI KRITIS
            Teori kritis adalah produk sekelompok neo-Marxis jerman yang tidak puas dengan keadaan teori Marxian (Bernstein,1995; Kellner, 1993; untuk tinjauan yang lebih luas terhadap teori kritis, lihat Agger, 1998), terutama kecenderungan yang menuju determinisme ekonomi.
Kritik utama terhadap kehidupan sosial dan intelektual
1.      Kritik terhadap teori Marxian. Teori kritis mengambil kritik terhadap teori Marxian titik tolaknya. Teoritisi kritis ini merasa sangat terganggu oleh pemikir Marxis penganut determinisme ekonomi yang mekanistis (Antonio, 1981; Schroyer,1973; Sebert, 1978). Teoritisi kritis tidak menyatakan bahwa determinis ekonomi keliru, ketika memusatkan perhatian pada bidang ekonomi, tetapi karena mereka juga seharusnya memusatkan perhatian pada aspek kehidupan sosial yang lain.
2.      Kritik terhadap Positivisme. Teoritisi kritis juga memusatkan perhatian terhadap filsafat yang mendukung penelitian ilmiah terutama positivism (Bottomore, 1984; Halfpenny, 2001; Morrow, 1994). Kritik terhadap positivism sekurangnya sebagian berkaitan dengan kritik terhadap determinisme ekonomi karena beberapa pemikir determinisme ekonomi menerima sebagian atau seluruh teori positivism terhadap pengetahuan.
3.      Kritik terhadap Sosiologi. Aliran kritis berpandangan bahwa sosiaolgi tidak serius mengkritik masyarakat, tak berupaya merombak struktur sosial masa kini. Menurut aliran kritis, sosiologi telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang ditindas oleh masyarakat masa kini.
4.      Kritik terhadap Masyarakat Modern. Kebanyakan karya aliran kritis di tunjukan untuk mengkritik masyarakat modern dan berbagai jenis komponennya. Kebanyakan teori Marxian awal secara tegas tertuju ke bisang ekonomi sedangkan aliran kritis menggeser orientasinya ke tingkat kultural mengingat kultur dianggap sebagai realitas masyarakat kapitalis modern.
Kritik terhadap Kultur. Teoritisi kritis melontarkan kritik pedas terhadap apa yang mereka sebut “Indusktri kultur”, yakni struktur yang di rasionalkan dan di birokratisasikan (misalnya, jaringan televisi) yang mengandalkan kultur modern.

Buku Max Weber

  The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism

           Dalam karyanya ini, ia memusatkan perhatian pada Protestantisme terutama sebagai sebuah gagasan yang lain, yaitu kapitalisme, dan akhirnya terhadap system ekonomi kapitalis. Weber menyatakan bahwa ketelitian yang khusus, perhitungan dan kerja keras dari Bisnis Barat di dorong oleh perkembangan etika Protestan yang mucul pada abad ke – 16 dan di gerakan oleh doktrin calvinisme, yaitu doktrin tentang takdir. Pemahaman tentang takdir menuntut adanya kepercayaan bahwa tuhan telah memutuskan tentang keselamatan dan kecelakaan. Weber berupaya memahami mengapa system ekonomi rasional (kapitalisme) berkembang di barat dan mengapa gagal berkembang di masyarakat lain di luar masyarakat barat. Dalam studi ini, Weber mengakui peran sentral agama. Agama, telah memainkan peran kunci dalam pertumbuhan kapitalisme barat, tetapi sebaliknya gagal mengembangkan kapitalisme di masyarakat lain. Weber menegaskan bahwa system agama rasional lah (calvinisme) yang memainkan peran sentral dalam menumbuhkan kapitalisme di barat. Sebaliknya, di belahan dunia lain yang ia kaji, Weber menemukan system agama yang lebih irrasinal (misalnya, Konfusianisme, Taoisme, Hinduisme) merintangi perkembangan system ekonomi rasional.
Menurut Waber etika kerja dari calvinisme yang berkombinasi dengan semangat kapitalisme bahwa masyarakat barat kepada perkembangan masyarakat kapitalis modern. Jadi, doktrin calvinisme tentang takdir memberikan daya dorong prikologis bagi rasionalisasi dan sebagai perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan system ekonomi kapitalis dalam tahap – tahap pembentukannya.

Economic and Society

Economic and Society merupakan buku karya Max Weber yang di terbitkan pada tahun 1920-an di Jerman. Dalam bukunya ini Weber membahas mengenai tindakan sosial. Weber menemukan bahwa tindakan sosial tidak selalu memiliki dimensi rasional tetapi terdapat berbagai tindakan non-rasional yang di lakukan orang, termasuk dalam tindakan orang dalam kaitannya dengan aspek politik dari kehidupan.
            Weber menemukan empat tipe dari tindakan sosial :
 Tindakan rasional Instrumental (Instrumentally rational acion), yaitu suatu tindakan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan dan pilihan yang sadar dalam kaitannya dengan tujuan suatu tindakan dan alat yang dipakai untuk meraih tujuan yang ada. Tindakan rasional nilai (Value rational action), yaitu tindakan dimana tujuan telah ada dalam hubungannya dengan nilai absolut dan nilai akhir bagi individu, yang di pertimbangkan secara sadar adalah alat untuk mencapai tujuan. Tindakan afektif (Affectual action), yaitu tindakan yang di dominasi perasaan atau emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar. Tindakan tradisional (Traditional action), yaitu tindakan karena kebiasaan atau tradisi.
Tindakan sosial dari berbagai individu mengkonstruksi auatu bangunan dasar bagi struktur – struktur sosial yang besal, salah satunya adalah kewenangan (authority). Berbeda dengan jumlah tipologi tindakan sosial dengan empat tipe, Weber membangun tipologi kewenangan dengan tiga tipe, yaitu :1. Kewenangan traditional, 2. Kewenangan kharismatik dan 3. Kewenangan legal – rasional. 

Buku Emilie Durkheim

1      Suicide

Emile Durkheim menulis sebuah buku yang berjudul “Suicide”. Dalam bukunya ini ia berpendapat bahwa bila ia dapat menghubungkan sebuah perilaku individu seperti bunuh diri dengan sebab – sebab social (fakta sosial) maka ia akan dapat menciptakan alasan meyakinkan tentang pentingnya disiplin sosiologi. Dan ia juga tertarik terhadap penyebab yang berbeda – beda dalam rata – rata perilaku bunuh diri di kalangan kelompok, wilayah, negara, dan di kalangan golongan individu yang berbeda. Argumen dasarnya adalah bahwa sifat dan perubahan fakta sosial lah yang menyebabkan perbedaan rata – rata bunuh diri.
            Studi Durkheim tentang bunuh diri merupakan contoh pragmatis dari bagaimana seharusnya sosiolog menghubungkan teori dan penelitian (Merton, 1968). Ia memilih studi tersebut karena persoalan ini relatif merupakan fenomena konkret dan spesifik. Selain itu alasan utamanya adalah untuk menunjukan kekuatan disiplin sosiologi.
            Bunuh diri secara umum merupakan salah satu tindakan pribadi dan personal. Durkheim tertarik terhadap kenapa suatu kelompok memiliki angka bunuh diri lebih tinggi di banding kelompok lain.
            Durkheim menawarkan dua cara yang saling berhubungan untuk mengevaluasi angka bunuh diri. Cara pertama adalah dengan membandingkan suatu tipe masyarakat atau kelompok dengan tipe lain. Cara ke dua yaitu melihat perubahan angka bunuh diri dalam sebuah kelompok dalam suatu rentang waktu. Durkheim mengakui bahwa setiap individu mungkin punya alasan sendiri – sendiri kenapa ia bunuh diri, meskipin itu bukanlah alasan sebenarnya.
            Durkheim memulai suicide dengan menguji dan menolak serangkaian pendapat alternative tentang bunuh diri. Yang penting adalah metode empirisnya dalam menyisihkan faktor – faktor yang berbeda di luar dan tidak releven agar bisa mendapatkan sesuatu yang ia anggap sebagai penyebab utama bunuh diri.
            Durkheim menyimpulkan bahwa faktor penting dalam perbedaan angka bunuh diri akan ditemukan dalam perbedaan level fakta sosial.

2     Rule of the sociological Method

Rule of the sociological Method merupakan buku kedua yang telah di buat oleh Durkheim. Dalam bukunya ini beliau menekankan bahwa tugas sosiologi adalah mempelajari apa yang ia sebut sebagai fakta – fakta sosial. Dimana ia membayangkan fakta sosial sebagai kekuatan (forse) (Takla dan Pope,1985) dan struktur yang bersifat eksternal dan memaksa individu. Studi tentang kekuatan dan struktur berskala luas ini – misalnya, hukum yang melembaga dan keyakinan moral bersama – dan pengaruhnya terhadap individu menjadi sasaran studi banyak teoritisi sosiologi di kemudian hari (misalnya Persons).
Dalam buku ini, ia membedakan antara dua tipe fakta sosial. Material dan non material. Fakta sosial material seperti birokrasi, hukum dan sebagainya, sedangkan fakta sosial non material seperti kultur, institusi sosial dan lain – lainnya.

Kemudian ia juga mengklaim dalam buku ini bahwa masyarakat yang sehat bisa di ketahui sosiolog akan menemukan kondisi yang sama dalam masyarakat lain yang sedang berada pada level yang sama. Karena itu, Durkheim menjelaskan dan membela ide tersebut, yaitu Durkheim berpendapat bahwa sosiolog mampu membedakan antara mesyarakat sehat dan masyarakat patologis. Dimana jika di masyarakat tidak berada dalam kondisi yang biasanya mesti di milikinya, maka bisa jadi masyarakat itu sedang mengalami patologis.

Selasa, 19 November 2013

Perkenalan

Haii blogger, kenalin nama saya Rusnawati Sani tapi cukup dipanggil "Una" aja ^-^..
sekarang lagi fokus kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Salam Semangat yuaaa